, ,

Unsrat Transformasi Panen Kelapa di Desa Lopana dengan Teknologi Tepat Guna

by -2627 Views

Dari 15 Jadi 50: Inovasi Unsrat Manado Pacu Produktivitas Petani Kelapa di Minahasa Selatan

News Buroko- Buah kelapa yang bergelantungan di ketinggian bukan lagi halangan bagi petani di Desa Lopana, Kecamatan Amurang Timur.Berkat inovasi teknologi tepat guna dari Universitas Sam Ratulangi Unsrat Manado, tradisi mengumpulkan pohon yang berisiko dan melelahkan kini telah bertransformasi menjadi aktivitas yang aman, efisien, dan luar biasa produktif.

Unsrat Transformasi Panen Kelapa di Desa Lopana dengan Teknologi Tepat Guna
Unsrat Transformasi Panen Kelapa di Desa Lopana dengan Teknologi Tepat Guna

Baca Juga :  Logo dan Maskot Porprov XII Sulut Resmi Diluncurkan, Wabup Deddy Nyatakan Dukungan Penuh

Program pemberdayaan masyarakat yang digagas Unsrat dengan dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Ditjen Riset dan Pengembangan Kemdiktibristek ini, hadir sebagai jawaban atas tantangan klasik yang dihadapi petani kelapa lokal.Melalui pengenalan Alat Panjat Kelapa Tepat Guna, para dosen tidak hanya membawa alat, tetapi juga membawa harapan baru untuk kesejahteraan.

Lompatan Produktivitas yang Signifikan

Ade Yusupa, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Unsrat, memaparkan hasil yang terlihat nyata di lapangan.“Sebelumnya, dengan cara manual yang sangat mengandalkan tenaga dan keberanian, seorang petani rata-rata hanya mampu menghasilkan 15 hingga 20 butir kelapa per hari.Aktivitas yang memakan waktu lama dan penuh risiko cedera,” ujarnya di Manado, belum lama ini.

“Setelah kami memperkenalkan dan melatih penggunaan alat panjat ini, terjadi peningkatan yang drastis. Kini, dalam waktu yang sama, petani bisa menghasilkan 40 hingga 50 butir per hari. Artinya, produktivitas mereka melonjak lebih dari 150% tanpa memerlukan biaya operasional yang signifikan,” tambah Ade dengan penuh antusias.

Lebih dari Sekadar Alat: Membuka Akses Pasar Digital

Inovasi ini tidak berhenti pada proses panen.Tim Unsrat yang berkolaborasi dengan dosen Universitas Negeri Manado (Unima), memahami bahwa produktivitas yang tinggi harus diimbangi dengan akses pemasaran yang luas.Oleh karena itu, program ini juga menyentuh aspek digital.

“Kami tidak ingin hasil panen yang melimpah hanya menumpuk di tingkat desa.Melalui pelatihan pemasaran digital, kami membekali petani untuk menjual produk mereka langsung ke konsumen yang lebih luas, baik melalui marketplace maupun media sosial. Dengan demikian, mereka tidak hanya memanen lebih cepat dan aman, tetapi juga bisa menjual dengan harga yang lebih kompetitif, memutus mata rantai tengkulak yang merugikan,” jelas Ade Yusupa.

Selaras dengan Visi Nasional dan Kemandirian Desa

Keberhasilan program di Desa Lopana ini memberikan dampak yang lebih besar dari sekadar peningkatan pendapatan petani setempat.Ade menegaskan bahwa hal ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), khususnya dalam poin pengentasan kemiskinan, penciptaan lapangan kerja yang layak, pertumbuhan ekonomi, dan ketahanan pangan.

Selain itu, program ini juga merupakan wujud nyata dari implementasi Agenda Astacita Nasional yang bertujuan membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi desa melalui inovasi dan teknologi.Desa Lopana diharapkan dapat menjadi desa percontohan (role model) bagi desa-desa penghasil kelapa lainnya di Indonesia.

Dukungan pendanaan dari DPPM Ditjen Risbang Kemdiktibristek Tahun 2025 menjadi bukti komitmen pemerintah dalam mendorong penelitian dan pengabdian yang berdampak langsung pada masyarakat. Kolaborasi antar-perguruan tinggi ini menunjukkan bahwa sinergi antara akademisi, pemerintah, dan masyarakat adalah kunci untuk memecahkan masalah riil di negeri ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.