, ,

Pernikahan Unik Di Ruang Tahanan Polres Gowa

by -1992 Views

Ikatan Suci di Balik Jeruji: Kisah Pernikahan Tak Biasa Pasangan Pengedar Narkoba di Polres Gowa

News Buroko- Di balik tembok beton dan jeruji besi Ruang Tahanan dan Barang Bukti (Tahti) Polres Gowa, Sulawesi Selatan, sebuah cerita tentang cinta, penyesalan, dan harapan baru justru ditorehkan pada sebuah Kamis yang tak terlupakan. Ahmad Hanafi dan Dewi, sepasang kekasih yang berstatus sebagai tersangka peredaran narkoba, memutuskan untuk mengikat janji suci pernikahan di tempat yang sama dimana kebebasan mereka sementara waktu terenggut.

Pernikahan Unik Di Ruang Tahanan Polres Gowa
Pernikahan Unik Di Ruang Tahanan Polres Gowa

Baca Juga : Kebangkitan Besar Pidato Xi Jinping Di Hari Nasional China

Pernikahan ini bukanlah pesta mewah dengan hiasan berkilau. Kesederhanaan dan kekhidmatan justru menjadi nuansa yang paling terasa. Prosesi ijab kabul berlangsung khidmat, meski diselenggarakan di antara tumpukan barang bukti kasus dan dinginnya besi jeruji. Upacara sakral ini disaksikan langsung oleh Kapolres Gowa, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman, beserta jajarannya, dan tentu saja, keluarga dari mempelai yang hadir dengan perasaan campur aduk.

Fasilitas untuk Sebuah Ikrar Sakral

Dalam pernyataannya, Kapolres Aldy menegaskan bahwa keputusan untuk memfasilitasi pernikahan ini dilandasi oleh penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan kesakralan agama. “Kami memberikan ruang ini agar akad nikahnya bisa berlangsung lancar. Di balik status mereka sebagai tersangka, ada hak asasi untuk menjalankan keyakinan agama. Ijab kabul adalah momen yang sangat sakral, dan kami merasa patut untuk memfasilitasinya,” ujar Aldy dengan penuh wibawa.

Lebih dari sekadar memberikan izin, Aldy juga turun langsung memberikan wejangan dan nasihat kehidupan kepada kedua mempelai. Ia berpesan agar Hanafi dan Dewi menjadikan momen peralihan status ini sebagai titik balik untuk membenahi hidup. “Harapan kami, setelah menjadi suami istri, mereka semakin menyadari kesalahan di masa lalu. Komitmen untuk membangun keluarga harus dibarengi dengan tekad untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama setelah mereka menjalani masa tahanan,” tuturnya menekankan.

Meski ruangannya adalah ruang tahanan, esensi dari ikrar suci “saya terima nikahnya…” tersebut tidak lantas berkurang. Usai prosesi, kedua pasangan ini resmi dipanggil sebagai suami dan istri, sebuah gelar baru yang harus mereka jalani sambil terus memikul beban proses hukum.

Drama Penangkapan yang Mengawali Segalanya

Kisah panjang yang membawa Hanafi dan Dewi ke pelaminan yang tak biasa ini berawal dari sebuah operasi penggerebekan. Keduanya sebelumnya ditangkap petugas di depan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Bolangi, Kabupaten Gowa. Saat ditangkap, mereka kedapatan membawa sejumlah paket sabu-sabu.

Hasil penyelidikan yang memilukan pun terungkap. Rencananya, narkoba jenis sabu tersebut akan diselundupkan ke dalam Lapas Narkotika tersebut, atas pesanan dari salah satu narapidana yang berada di dalam. Sebuah rencana berisiko tinggi yang akhirnya mengantarkan mereka pada dua status sekaligus: sebagai tersangka dan, kini, sebagai pasangan suami-istri.

Harapan dan Luka di Hati Orang Tua

Momen yang seharusnya menjadi kebahagiaan terbesar bagi orang tua, justru diwarnai oleh cucuran air mata haru dan sedih. Melihat anak mereka menjalani momen sakral hidup di balik jeruji besi tentu bukanlah pemandangan yang mudah bagi kedua orang tua mempelai.

Dengan suara bergetar, perwakilan orang tua pengantin yang enggan disebutkan namanya menyampaikan rasa syukur yang mendalam di tengah kepedihan. “Alhamdulillah, pihak Polres Gowa begitu berperasaan dan memberikan fasilitas pernikahan untuk anak kami. Di situasi sesulit ini, kami masih bisa menyaksikan mereka diijabkabulkan,” ujarnya.

Namun, di balik rasa syukur itu, terselip doa dan harapan yang mendalam dari lubuk hati orang tua. “Semoga ini adalah awal yang baru. Doa kami, setelah mereka bebas nanti, mereka mampu menjalani kehidupan rumah tangga secara normal, jauh dari narkoba, dan mengisi hidup dengan hal-hal yang positif agar bisa bahagia.”

Pernikahan di penjara ini adalah sebuah paradoks; sebuah awal baru dimulai di tempat yang biasanya menjadi akhir dari sebuah kebebasan. Bagi Hanafi dan Dewi, hari ini adalah pengingat bahwa cinta dan penebusan dosa bisa tumbuh di mana saja, bahkan di tempat yang paling kelam sekalipun. Kini, tantangan terbesarnya adalah membuktikan bahwa janji suci mereka lebih kuat dari bujuk rayu dosa masa lalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.